Kamis, 24 Maret 2011

Masa Depan Islam Indonesia


Salah satu surat kabar Nasional (9/10) memuat tulisan seorang Doktor dari National University of Malaysia yang berbicara tentang adanya semacam kekhawatiran (pihak asing-red) bahwa peradaban Islam di prediksikan akan kembali berjaya seperti masa Dinasti Abbasiyah (750 H-1258 M). Kiblatnya tidak lagi di kawasan Timur Tengah, tetapi Benua Asia dengan Indonesia sebagai titik sentralnya. Tentu saja banyak pihak yang sekarang merasa peradabannya (the most civilized nations) resah jika Islam di Indonesia suatu saat menggeser kejayaan mereka. Prediksi tersebut patut di cermati secara subtansial, mengingat Indonesia adalah negara berpenduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia.
 

“Lima Bom” Untuk Islam Indonesia

Ketua Majlis Ulama Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta, Drs H Thoha Abdurrahman sebagaimana di wawancarai dalam sebuah harian terbitan Jawa (4/10) dalam menyikapi fenomena terkini umat Islam terkait dengan adanya aliran sesat Al Qiyadah Islamiyah menegaskan bahwa ada usaha untuk menghancurkan Islam Indonesia dengan “Lima Bom”. Yakni, bom politik, uang ekonomi, social budaya, kemasyarakatan, hukum dan agama. Targetnya adalah Islam Indonesia kiamat pada tahun 2008-2013.


Masa depan politik Islam Indonesia masih dalam pertanyaan besar. Apalagi-meminjam istilah Donny Gahral Ardian (2007)- bahwa kita sedang menyaksikan pernikahan ideologis antara Partai Demokrasi Perjuangan (PDI-P) dan partai Golongan Karya. Faksi merah-putih bertemu PDI-P. partai yang selama ini di kenal satu suara soal finalitas negara kesatuan, Pancasila dan kebhinnekaan. Semua tahu kepada siapa sinyal ideologis ini di sampaikan. Keduanya khawatir atas penguatan politik agama di berbagai belahan republic. Targetnya jelas dan mulia:pluralisme harus di selamatkan. Politik baik makro atau mikro harus di isi kader dengan basis ideologis nonsectarian. Fakta yang jelas juga terlihat ketika kedua partai politik tersebutlah yang paling serius memperjuangkan asas tunggal. 


Terkait dengan “bom ekonomi”, buku karya John Perkins berjudul Cofession of an Economic Hit Man yang di bahas sebuah majalah bulanan terbitan Jakarta dua tahun yang lalu memperkuat dugaan tersebut. Di sebutkan, pengakuan Think-Tank AS menunjukkan bukti adanya konpirasi global yang di lakukan Barat (AS-red) terhadap umat Islam Indonesia. Perkins dan sejumlah temannya memiliki sebutan sebagai economic hit man atau pembunuh ekonomi. Mereka bertugas di bawah Pengawasan Dewan Keamanan Nasional atau National Security Agency (NSA), salah satu lembaga keamanan dan intelijen terkemuka di AS. 


Imperium itu dibangun bukan melalui persaingan yang sehat dan jujur, tapi dengan cara-cara yang kotor. Mereka melakukannya dengan manipulasi ekonomi, kecurangan, penipuan, seks, merayu orang untuk mengikuti cara hidup orang Amerika. Parahnya lagi, saat penulis menyimak pemaparan pakar ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) Revrisond Baswir pada saat Temu BEM Seluruh Indonesia di Yogyakarta 1-3 November baru-baru ini, disebutkan bahwa rata-rata fakultas ekonomi yang ada di negeri ini adalah pusat-pusat pengkajian ekonomi liberal, sekaligus antek-antek kolonial dan neoliberal. Lihat saja, berapa ilmu ekonomi yang mengajarkan ekonomi kerakyatan, apalagi ekonomi Islam. Semuanya jelas bagian dari grand design konspirasi global. Fakta yang menyedihkan telah terjadi ketika di awal era Suharto memerintah, negeri ini telah di “perjualbelikan” dengan pihak asing, pelaku utamanya adakah mereka-mereka yang tergabung dalam Mafia Berkeley.
Dalam aspek hukum, ada kata-kata yang menjadi rujukan ketika apa yang pernah di tuliskan seorang Wartawan Senior di Singgalang beberapa waktu yang lalu, bahwa ada asumsi konpirasi asing dalam sebuah penegakan hukum terkait kasus korupsi. Di karenakan para wakil rakyat tersebut-sebagaimana saya dengar dari salah seorang mereka- adalah buya yang begitu mencintai penerapan Adat Basandi Syarak-Syarak Basandi Kitabullah (penegakan syariat Islam-red). Kita berharap tidaklah demikian. Karena, ini adalah gaya lain Mafia Berkeley. 


Hal paling subtansial adalah ketika hari ini kita melihat banyaknya pemikiran nyeleneh dalam kehidupan beragama. Lihat kasus mutakhir tentang adanya Nabi baru. Juga, secara nasional bangsa ini semakin di teror dengan berbagai pemikiran liberal yang di dapat dari dosen-dosen lulusan Barat. Bukan sikap apatis yang di kedepankan, melainkan saya teringat kembali dengan tulisan Adian Husaini (2007) tentang peta pemikiran Islam dan trend perkembangan paham liberalisme, khususnya di lingkungan perguruan tinggi Islam. Dari laporan sejumlah mahasiswa yang mengambil kuliah S-2 studi Islam di berbagai perguruan tinggi Islam di daerahnya, rata-rata menceritakan tentang dosen yang mengajarkan paham relativisme. 


Dalam satu forum, ada seorang dosen di Malang yang secara terbuka menyampaikan bahwa Islam adalah banyak dan tidak satu.Dia berkata di depan forum: ”Islam yang mana yang Anda kembangkan? Tafsir yang mana yang bisa dijadikan rujukan? Bukankah para mufasir itu juga berbeda-beda pendapatnya?” Dalam acara di Solo, pertanyaan serupa juga diajukan seorang dosen sebuah Perguruan Tinggi Islam?. Refleksi Adian Husaini bahwa pemahaman seperti itu adalah keliru, dan sudah tercemar virus relativisme. Dari penyebaran virus relativisme di berbagai perguruan Tinggi Islam ini, sebenarnya bisa dilacak dari mana sumber dan distributornya. Relativisme adalah doktrin bahwa ilmu, kebenaran, dan moralitas senantiasa terkait dengan budaya, sosial, dan konteks historis, dan tidak bersifat absolut. (the doctrine that knowledge, truth, and morality exist in relation to culture, society, or historical context, and are not absolute). Dengan perspektif pemahaman seperti itulah maka para pengusung paham ini menerapkan pola pikir tersebut terhadap Al-Quran dan tafsir Al-Quran. Mereka biasa mengatakan, bahwa Al-Quran adalah produk budaya; bahwa tafsir Al-Quran adalah relatif karena merupakan produk akal manusia yang relatif. Ujung-ujungnya mereka mengatakan, bahwa manusia tidak tahu kebenaran, bahwa yang tahu kebenaran hanya Allah. Karena itu, kata mereka, tidak boleh mengklaim agamanya atau pendapatnya sendiri yang benar dan menyalahkan pendapat orang lain. Lebih lanjut lagi, kata mereka, hukum-hukum Islam pun bersifat relatif dan terkait dengan budaya Arab.  

Zakat sebagai Modal Kebangkitan 
 
Masa depan Islam memang ada di tangan kita. Kitalah yang menentukan apakah Islam akan kembali jaya. Maka, penyikapan utama adalah tentang persoalan klasik umat Islam. Kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan. Dalam prediksi PBB soal pertumbuhan jumlah penduduk di seluruh dunia pada tahun 2010, angka kemiskinan tingkat dunia akan mencapai 60 persen. Semua lembaga Internasional terus berupaya untuk menghilangkan angka kemiskinan ini, dan mereka tidak mampu melakukannya. Ini berarti harus ada solusi konkret umat Islam untuk mengatasi problema tersebut. 


Konfrensi Zakat Asia Tenggara II yang menghimpun para pengelola, praktisi, dan tokoh baru saja berakhir, akhirnya merekomendasikan tujuh butir rekomendasi. Dari tujuh butir rekomendasi itu, menurut Sunaryo Adhiatmoko ada tiga butir yang istimewa untuk Indonesia sebagai tuan rumah. Pertama, butir ke empat yang memaparkan bahwa perlu di kaji dan di pertimbangkan agar peran organ pemerintah yang mengatur masalah zakat dapat di tingkatkan kapasitasnya, baik dalam tingkatan Kementrian atau minimal Direktoral Jendral. Kedua, butir ke lima bahwa meminta kepada pemerintah, DPR, Organisasi Zakat dan masyarakat luas mengusahakan dan memperjuangkan agar UU yang berkaitan dengan zakat dapat diamandemen/direvisi sehingga zakat berperan secara maksimal sebagai smuber dana pembagunan umat. Ketiga, butir ke enam bahwa meminta kepada Pemerintah dan DPR agar zakat dapat/boleh mengurangi pajak/cukai. Hal ini jelas-jelas merupakan secercah harapan akan bangkitnya kesejahteraan di bidang ekonomi bila nantinya terlahir harapan tersebut.


Hal ini memperkuat pernyataan Prof. M. Ridwan Lubis, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah (2007) bahwa dalam mewujudkan peradaban Islam itu setidaknya dibutuhkan sinergi tiga komponen yaitu kesejahteraan di bidang ekonomi, stabilitas di dalam kehidupan sosial serta majunya perkembangan keilmuan. Ketiga hal ini memiliki akar yang kuat dalam ajaran Islam.

Kesejahteraan di bidang ekonomi terpancar dari rukun Islam yang menekankan zakat sebagai salah satu pilar Islam. Pilar ini mengacu kepada lorong khusus kehidupan ekonomi yang ditawarkan Islam yaitu pengakuan adanya hak milik individu pada setiap harta yang didapatnya dan juga mendorong setiap orang untuk bekerja sebanyak-banyaknya karena pekerjaan itu bernilai ibadah namun pada saat yang sama harus menyadari bahwa kepemilikan itu tidak sempurna (milk al naqish) dan disamping itu juga partisipasi untuk membagi harta kepada orang miskin bukan suatu belas kasihan (charity) akan tetapi suatu kewajiban karena dalam setiap milik individu itu melekat pula milik orang lain. 

Kepercayaan mempunyai peranan penting dalam kehidupan. Adalah hal yang sangat stategis ketika negara-negara Muslim memberikan kepercayaan dengan sangat mengharapkan Indonesia bisa mewakili mereka untuk menyuarakan pentingnya penggalian sumber zakat di tingkat dunia, untuk meringankan penderitaan orang-orang miskin. Karena zakat di berikan kepada orang miskin tanpa syarat sedikitpun. Ia, mengandung keberkahan, ketulusan dan keikhlasan. Jika kekokohan itu ada di awali iman yang kuat. Mustahil masa depan Islam akan terus seperti sekarang.

Penulis adalah Mahasiswa Pidana Politik IAIN IB PADANG, Aktivis Kabinet Peduli BEM IAIN PADANG.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar